Blog Review

25 Oktober 2009
Perempuan dari Timur

 
 
Perempuan dari Timur
 
Setiap masyarakat diatur oleh rangkaian tanda, peran, dan ritual yang tidak saling berhubungan, sering disebut sebagai Tatanan Simbolik. Agar dapat berguna secara baik di dalam masyarakat, seorang anak harus memahami tatanan ini dengan baik, dan semakin banyak ia tunduk kepada aturan di dalam masyarakat, semakin banyak aturan yang terpatri di dalam ketidaksadarannya. Untuk menyesuaikan diri dengan tatanan ini, dilalui beberapa tahap: Tahap pertama adalah tahap pra Oedipal, yaitu dimana seorang bayi tidak menyadari batasan egonya, yang hanya mengerti bahwa ia dan ibunya adalah satu. Tahap kedua adalah tahap cermin, yaitu dimana bayi berpikir bahwa citra dirinya seperti terefleksi melalui cermin pandangan ibunya adalah dirinya yang sesungguhnya. Tahap ketiga adalah tahap Oedipal, yaitu tahap keterasingan antara ibu dan sang bayi, sejalan dengan perkembangan bayi menuju dewasa. Tahapan-tahapan ini perlahan-lahan akan membuat anak tunduk kepada tatanan Ayah.
 
Pengalaman anak laki-laki dalam proses pemisahan diri dengan ibunya berbeda dengan pengalaman anak perempuan. Contohnya pada tahap Oedipal, anak laki-laki menolak identifikasi dengan ibunya, menghindari keadaan hening seperti ketika berada di dalam rahim, kemudian mendekatkan diri dengan ayah yang mempunyai anatomi yang lebih mirip. Melalui identifikasi dengan ayahnya, anak laki-laki tidak hanya memasuki tahap dirinya sebagai subject dan individu tetapi juga menyesuaikan diri dengan tatanan dominan dalam masyarakat. Sementara itu, anak perempuan tidak dapat maksimal dalam pengidentifikasian dirinya kepada ayah dalam area psikoanalisis ini. Dengan demikian anak perempuan tidak dapat sepenuhnya menerima dan melakoni tatanan simbolik ini. Singkatnya, perempuan disingkirkan dari tatanan simbolik dan dikucilkan pada bagian yang kecil.
 
                Jika menilik fenomena diatas, rasanya hidup ini menjadi flat-flat saja, apakah perempuan sekarang setuju dengan situasi tersebut? Tengah di-nina bobo-kan dengan standar pengetahuan dan penelitian yang dibakukan tentang perempuan? Jawabannya adalah TIDAK! Perempuan dari Timur, sengaja saya pilih sebagai tajuk yang pas dalam pameran ini. Selain para perupa perempuan ini adalah kelompok perupa Surabaya, yang disini saya terjemahkan sebagai Timur, Timur adalah identik dengan matahari terbit, awal dari sebuah kehidupan. Demikian juga dengan perempuan yang lahir atau tepatnya datang dari Timur, menjadi jiwa-jiwa yang akan menghangatkan seluruh negeri bak matahari. Kemudian, ketika melihat dan memaknai karya perupa perempuan dalam pameran Perempuan dari Timur ini, semakin meyakinkan saya bahwa mereka adalah makhluk yang berbicara lantang akan perannya sebagai perempuan sesungguhnya dalam masyarakat secara benar. Perempuan yang sanggup memenuhi tuntutan yang dibutuhkan oleh jaman, tanpa harus menengadah sombong dan mempertaruhkan harga diri. Selain itu mereka adalah perempuan yang menggunakan kesadaran penuh untuk meraih keinginannya agar mencapai sebuah keseimbangan karena struktur social, bukan karena patriarki. Mereka adalah perempuan yang menggunakan akal sehatnya untuk menjadi tetap tinggi, tetapi tidak mengancam. Kemudian saya pun menyetujui jika akhirnya hadir sebuah kalimat, Sudah saatnya bagi perempuan untuk tidak lagi bisu dalam kehampaan. Sudah seharusnya perempuan dilakonkan dalam suatu hal yang besar, melepaskan diri dari pemenjaraannya dan menghancurkan tatanan-tatanan simbolik yang membelenggu.
All the best,
 

Nana Tedja, SE, MSn



Millie Huang, 25 Oktober 2009